Info Kampus
Jumat, 10 Apr 2026
  • Penerimaan Mahasiswa Baru telah Dibukaa!!! | Daftar Sekarang!!
  • Penerimaan Mahasiswa Baru telah Dibukaa!!! | Daftar Sekarang!!
19 Juni 2025

Mahasiswa STAI Al Gazali Barru Lakukan Study Tour ke Masjid Bersejarah Imam Lapeo, Jejak Peradaban Islam di Tanah Mandar

Kam, 19 Juni 2025 Dibaca 213x

Polman, 18 Juni 2025 – Mahasiswa Semester IV STAI Al Gazali Barru melaksanakan kegiatan kunjungan lapangan (study tour) ke salah satu situs wisata religi bersejarah, Masjid Nuruttaubah Imam Lapeo di Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang bertujuan memperluas wawasan mahasiswa melalui pengalaman belajar langsung di luar kelas.

Masjid yang berdiri megah ini didirikan oleh KH. Muhammad Thahir atau yang lebih dikenal sebagai Imam Lapeo pada tahun 1902. Awalnya hanya berupa langgar kecil, masjid ini kemudian berkembang secara bertahap hingga menjadi pusat dakwah Islam yang berpengaruh di wilayah Mandar. Imam Lapeo dikenal sebagai ulama besar yang mengubah pola hidup masyarakat dari animisme menuju ajaran Islam yang moderat dan penuh kasih.

Ketua STAI Al Gazali Barru, Dr. Muhaemin, S.Sy., M.Sos, yang turut hadir dalam kegiatan ini bersama Wakil Ketua I dan dosen pengampu, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan study tour ini.

“Kunjungan ke Masjid Imam Lapeo ini bukan sekadar wisata religi, tetapi menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang hidup dan bermakna. Mahasiswa tidak hanya memahami sejarah dari buku, tapi juga menyaksikan langsung jejak dakwah para wali Allah di tanah Sulawesi,” ujarnya.

Kegiatan ini juga diisi dengan ziarah ke makam Imam Lapeo, yang berada di kompleks masjid. Dalam kesempatan tersebut, para mahasiswa mendengarkan langsung kisah sejarah berdirinya masjid dari Dalilul Falihin, cucu dari Imam Lapeo. Ia menceritakan bahwa sebelum menetap di Lapeo, KH. Muhammad Thahir telah mengembara menuntut ilmu ke berbagai tempat mulai dari Parepare, Madura, Jawa, Sumatera, Istanbul (Turki), hingga Mekkah.

“Karena pernah belajar di Istanbul, masyarakat di sini menyebut beliau Kanne Ambol, artinya kakek dari Istanbul,” ujar Dalilul.

Menurut Dalilul, beberapa bagian masjid masih dipertahankan seperti bentuk asli—termasuk mihrab, menara, dan gerbang masjid. Menara masjid bahkan disebut terinspirasi dari arsitektur masjid di Istanbul. Nama Nurut Taubah yang berarti “cahaya taubat” diberikan karena semasa hidupnya Imam Lapeo banyak menyadarkan masyarakat dari praktik kemaksiatan seperti sabung ayam dan minuman keras.

Sementara itu, Zaenal, pengurus Masjid Imam Lapeo yang juga menantu dari cucu Imam Lapeo, menambahkan bahwa masjid ini dilengkapi dengan beduk raksasa setinggi 3 meter yang didatangkan dari Cirebon dan Al-Qur’an raksasa berukuran 2 x 1 meter hasil karya Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Wonosobo.

“Waktu mencari beduk, kami bersyukur karena dipertemukan dengan beduk yang sudah dipesan orang tapi dibatalkan. Beduk inilah yang kemudian kita datangkan ke sini,” kenangnya.

Kesan mendalam juga dirasakan oleh para mahasiswa peserta study tour. Salah satunya, Ulfa, mahasiswa Semester IV, menyatakan bahwa pengalaman ini memberikan pelajaran yang tak tergantikan.

“Saya sangat terinspirasi. Melihat langsung masjid yang dibangun dengan perjuangan dan keikhlasan seperti ini, membuat saya lebih memahami makna dakwah dan sejarah peradaban Islam secara nyata,” tuturnya penuh haru.

Dengan semangat belajar langsung dari sumber sejarah, kegiatan ini diharapkan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter, spiritualitas, dan wawasan mahasiswa STAI Al Gazali Barru. Kunjungan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai perjuangan, dakwah, dan ilmu yang diwariskan oleh para ulama terdahulu harus terus dijaga dan diwariskan ke generasi berikutnya.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar